Memang
ada pandangan psikologi mutakhir yang menyatakan orang bisa hidup lebih bahagia
setelah bercerai. Bahwa perceraian bukan akhir kehidupan suami istri. Namun,
orangtua yang bercerai harus tetap memikirkan bagaimana membantu anak mengatasi
penderitaan akibat ayah Ibunya berpisah.
Dari waktu ke
waktu, kasus perceraian tampaknya terus meningkat. Maraknya
tayangan infotainment di televisi yang menyiarkan parade Artis Dan public
figure yang mengakhiri perkawinan mereka melalui meja Pengadilan, seakan
mengesahkan bahwa perceraian merupakan tren. Sepertinya kesakralan Dan makna
perkawinan sudah tidak lagi berarti. Pasangan yang akan bercerai sibuk mencari
pembenaran akan keputusan mereka untuk berpisah. Mereka tidak lagi
mempertimbangkan bahwa ada Yang bakal sangat menderita dengan keputusan
tersebut, yaitu anak-anak.
Namun,
fenomena perceraian marak terjadi bukan hanya di kalangan artis atau public
jIgure saja. Di dalam keluarga sederhana, bahkan di dalam Lingkungan pendidik,
lingkungan yang tampak religius, perceraian juga Banyak terjadi.
Salah satunya terjadi pada Pak Edy (bukan nama
sesungguhnya) ,
Sambil bertanya, sekilas ia menjelaskan kesulitannya
mengasuh anak satu-satunya yang berusia empat tahun. Doni, nama anak itu,
menjadi sangat nakal dan tidak mau ditinggal bekerja oleh ayahnya. Di akhir
Cerita, Pak Edy baru mengaku bahwa ia telah berpisah dengan istrinya karena
ketidakcocokan.
Pada kisah lainnya, Ayu, bocah berumur delapan tahun,
mengalami perubahan sangat memprihatinkan setelah orangtuanya bercerai. Ayu
enggan berangkat ke sekolah. Sebab, di lingkungan dia belajar itu banyak
temannya yang bertanya-tanya tentang kasus perceraian orangtuanya.
Ayu menjadi malu, merasa dirinya sangat buruk karena
memiliki orangtua yang bercerai. Dalam hati Ayu juga merasa marah kepada ayah
dan ibunya kenapa mereka sering bertengkar dan saling marah. Akibatnya, sulit
baginya mengharapkan bisa bepergian sekeluarga ke mal atau keluar kota untuk
berlibur, seperti yang dialami teman-temannya.
Sejak perceraian itu semangat belajar Ayu menurun
drastis, Sehingga nilai rapornya pun merosot. Anak yang tadinya gembira dan ceria
itu berubah diam, pasif, dan murung, dengan badan yang juga semakin kurus.
Reaksi Berbeda
Seperti yang terjadi pada
Doni Dan Ayu, perceraian selalu saja merupakan rentetan goncangan-goncangan
yang menggoreskan luka batin yang dalam bagi mereka yang terlibat, terutama
anak-anak.
Sekalipun perceraian tersebut dapat diselesaikan dengan
baik dan damai Oleh orangtuanya, namun tetap saja menimbulkan masalah bagi
anak-anak mereka.
Reaksi anak berbeda-beda terhadap perceraian orangtuanya. Semua tergantung pada umur, intensitas serta lamanya konflik yang berlangsung sebelum terjadi perceraian.
Reaksi anak berbeda-beda terhadap perceraian orangtuanya. Semua tergantung pada umur, intensitas serta lamanya konflik yang berlangsung sebelum terjadi perceraian.
Setiap anak menanggung penderitaan dan kesusahan dengan
kadar yang berbeda-beda. Anak-anak yang orangtuanya bercerai, terutama yang
sudah berusia sekolah atau remaja biasanya merasa ikut bersalah dan bertanggung
jawab atas kejadian itu. Mereka juga merasa khawatir terhadap akibat buruk yang
akan menimpa mereka.
Bagi anak-anak, perceraian merupakan kehancuran keluarga yang akan mengacaukan kehidupan mereka. Paling tidak perceraian tersebut menyebabkan munculnya rasa cemas terhadap kehidupannya di masa kini dan di masa depan. Anak-anak yang ayah-ibunya bercerai sangat menderita, dan mungkin lebih menderita daripada orangtuanya sendiri.
Bagi anak-anak, perceraian merupakan kehancuran keluarga yang akan mengacaukan kehidupan mereka. Paling tidak perceraian tersebut menyebabkan munculnya rasa cemas terhadap kehidupannya di masa kini dan di masa depan. Anak-anak yang ayah-ibunya bercerai sangat menderita, dan mungkin lebih menderita daripada orangtuanya sendiri.
Akibat Emosional
Dalam suatu perceraian, orangtua mencurahkan seluruh
waktu dan uangnya untuk saling bertikai mengenai harta, tunjangan uang yang
akan diberikan suami setelah bercerai, hak pemeliharaan anak, dan hak-hak lain.
Sementara itu, mereka hanya mencurahkan sedikit waktu
atau usaha untuk mengurangi akibat emosional yang menimpa anak-anaknya.
Pengacara yang terlibat dalam perceraian tersebut, sesuai tugasnya memang hanya
memfokuskan diri pada masalah hukum saja. Biasanya mereka kurang memperhatikan
akibat emosional pada diri anak-anak yang jadi Korban dalam peristiwa
perceraian tersebut.
Mereka umumnya kurang ikut memikirkan bagaimana
memberikan konseling Kepada kliennya, dalam hal ini orangtua yang mau bercerai,
tentang cara-cara terbaik dalam membantu anak-anak mengatasi dan menyesuaikan
diri dengan situasi yang ada.
Walaupun orangtua telah berusaha menyelesaikan perceraian
dengan hati-hati dan damai, tidak Ada cara yang dapat mereka lakukan untuk
menghindari akibat negatif terhadap anak-anak. Oleh karena itu, menjadi penting
bagi orangtua yang dalam proses Perceraian untuk sebaik mungkin mengambil
usaha-usaha khusus untuk Meminimalkan penderitaan dan kesusahan anak-anaknya.
Ini membutuhkan perhatian dan usaha aktif dari pihak orangtua.
Sampai Dua Tahun.
Umumnya anak-anak yang orangtuanya bercerai dilanda
perasaan-perasaan kehilangan (hilangnya satu anggota keluarga: ayah atau
ibunya), gagal, kurang percaya diri, kecewa, marah, dan benci yang amat sangat.
Richard Bugeiski Dan Anthony M. Graziano (1980)
menyatakan bahwa dua tahun pertama setelah terjadinya perceraian merupakan
masa-masa yang amat sulit bagi anak-anak. Mereka biasanya kehilangan minat
untuk pergi dan mengerjakan tugas-tugas sekolah, bersikap bermusuhan, agresif
depresi, dan dalam beberapa kasus Ada yang bunuh diri.
Anak-anak yang orangtuanya bercerai menampakkan beberapa
gejala fisik dan stres akibat perceraian tersebut seperti insomnia (sulit
tidur), kehilangan nafsu makan, dan beberapa penyakit kulit.
Riset menunjukkan, setelah kira-kira dua tahun mengalami
masa sulit dengan perceraian orangtuanya, sampailah anak-anak tersebut ke masa
keseimbangan atau masa equilibrium. Di masa itu, kesusahan dan penderitaan akut
yang mereka alami sejak terjadinya perceraian mulai berkurang.
Anak-anak telah belajar menyesuaikan diri dan melanjutkan kehidupan mereka. Namun, perceraian orangtua tetap menorehkan luka batin yang menyakitkan bagi mereka. Selain beberapa dampak di atas, dalam beberapa kasus terjadi anak yang orangtuanya bercerai, pada saat dewasa, menjadi takut untuk menikah.
Anak-anak telah belajar menyesuaikan diri dan melanjutkan kehidupan mereka. Namun, perceraian orangtua tetap menorehkan luka batin yang menyakitkan bagi mereka. Selain beberapa dampak di atas, dalam beberapa kasus terjadi anak yang orangtuanya bercerai, pada saat dewasa, menjadi takut untuk menikah.
Dia khawatir perkawinannya nanti akan mengalami nasib
yang sama seperti orangtuanya.
Kasus yang lain, anak yang orangtuanya bercerai, pada
saat dewasa jadi membenci laki-laki atau perempuan karena menganggapnya sama
dengan ayah atau ibunya yang telah menghancurkan keluarganya.
Yang Perlu Dilakukan.
Sangat sulit menemukan cara agar anak-anak merasa
terbantu dalam menghadapi masa-masa sulit karena perceraian orangtuanya.
Sekalipun ayah atau ibu berusaha memberikan yang terbaik yang mereka bisa,
segala yang baik tersebut tetap tidak dapat menghilangkan kegundahan hati
anak-anaknya.
Beberapa psikolog menyatakan bahwa bantuan yang paling
penting yang dapat diberikan oleh orangtua yang bercerai adalah mencoba
menenteramkan hati dan meyakinkan anak-anak bahwa mereka tidak bersalah.
Yakinkan bahwa mereka tidak perlu merasa harus ikut bertanggung jawab atas
perceraian orangtuanya.
Hal lain yang perlu dilakukan oleh orangtua yang akan
bercerai adalah membantu anak-anak untuk menyesuaikan diri dengan tetap menjalankan
kegiatan-kegiatan rutin di rumah. Jangan memaksa anak-anak untuk memihak salah
satu pihak yang sedang cekcok serta jangan sekali-sekali melibatkan mereka
dalam proses perceraian tersebut.
Hal lain yang dapat membantu anak-anak adalah mencarikan
orang dewasa lain seperti tante atau paman, yang untuk sementara dapat mengisi
kekosongan hati mereka setelah ditinggal ayah atau ibunya. Maksudnya, supaya
anak-anak merasa mendapatkan topangan yang memperkuat mereka dalam mencari
figur pengganti ayah ibu yang tidak lagi hadir seperti
ketika belum ada perceraian
ketika belum ada perceraian



0 komentar:
Posting Komentar